Sabtu, 19 Juli 2014

Review Produk Food Processor Philips

Memang secara harga, food processor jauh lebih mahal dibandingkan mixer biasa (mixer ada yang seharga 200 ribu sementara food processor yang saya miliki seharga 999 ribu yang dibeli pada tahun 2010, dengan spesifikasi merek Philips Cuccina, dan bonus blender dan gilingan kacang). Berhubung blender dan food processor digerakkan oleh satu mesin, jadi blender dan food processor tidak bisa bekerja bersama-sama.

Dengan food processor dapat melakukan hal-hal berikut: merajang sayuran lebih cepat, mengiris bawang lebih cepat, membuat mayonaise, cream, memotong motong , dll. Sangat berguna jika kita memasak dalam jumlah yang besar, dalam waktu singkat dan tidak ada yang membantu.

Beberapa pekerjaan yang biasa dilakukan dengan mixer dapat dilakukan dengan Food Processor antara lain:
  • Membuat roti. Jika menguleni dengan mixer untuk mendapat hasil yang lembut dibutuhkan pengulenan 2 kali sementara dengan Food Processor cukup 1 kali saja.
  • Membuat bolu dan cake. Bisa dilakukan, bolu ketan hitam, bolu biasa, lapis surabaya, bolu gulung, lebih lembut dihasilkan dengan FP. Tapi kalau Brownies kukus lebih baik menggunakan mixer agar hasilnya lebih berbentuk dan tidak hancur,
  • Kue sus yang dihasilkan lebih lembut pada FP
  • Kue pukis lebih baik memakai mixer agar kue yang dihasilkan lebih mengembang.
Food Processor Cuccina ini sangat menarik. Selain food grade ia memiliki sensor termal yang bisa memonitor panasnya mesin sehingga mesin akan otomatis berhenti bekerja jika sudah terlalu panas.(Ini bisa membantu kita untuk mengingatkan agar mesin bekerja tidak lebih dari kapasitasnya). Jika mesin mati otomatis food processor dan blender yang mengandalkan mesin yang sama tidak dapat bekerja. Pada manual juga diberikan resep dan kapasitas berat maksimal menggiling bahan.

Sayangnya food processor ini hanya bertahan kurang lebih 3 tahunan saja usianya.  Tiba-tiba saja mesin ini mati. Saya mengira mesin ini mati karena terlalu  panas dan kelak akan bekerja kembali. tapi setelah ditunggu seharian mesin ini tetap tidak mau bekerja. Akhirnya pekerjaan memasak dilanjutkan dengan alat yang lain. Tapi karena penasaran, akhirnya kami berusaha membongkar food processor tersebut. Ternyata batang yang menjadi sumbu perputaran wadah food processor di dalam sudah patah. Itu sebabnya ia tidak dapat berputar kembali. Kalau mesinnya sendiri masih bisa bekerja sampai sekarang dan masih dapat digunakan untuk memblender dan menggiling.

Dugaan saya poros ini patah karena over capacity. Itu sebabnya jika kita ingin menggunakan food processor, jangan sekali kali melanggar kapasitas maksimum yang sudah ditulis dalam manual, kalaupun sudah sesuai kapasitas, perlu dicek kembali benda yang akan digiling seperti apa? Kalau masih beku dan berbentuk batu es, sebaiknya dinginkan terlebih dahulu karena akan memberikan goncangan yang besar pada poros mesin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar